Saturday, 7 January 2017

Day 6: A Balloon, A Ball, Balustrades.


.

Ia merasa sangat bosan.

Disekelilingnya, orang-orang saling bercanda tawa, menari, membicarakan hal-hal yang tidak penting, dan berusaha terlihat bersenang-senang walaupun dalam hati mereka tidak. Ia tahu hal itu, karena ia sendiri memasang senyum palsu walaupun dalam hati ia merasa bosan. Kesal.
Tapi sayangnya, ia harus mengikuti hal ini sampai pukul sepuluh malam, waktu tercepat untuknya pulang yang ditentukan oleh orang tuanya.

Ia tidak tahu mengapa ia harus sekali datang ke acara seperti ini. Ia tidak kenal dengan siapapun (bohong, sebenarnya ia kenal, tapi orang-orang yang ia kenal bukanlah mereka yang ingin ia ajak bicara).

Ia memutar untuk mengambil minum lagi, sebelum kemudian dari ujung penglihatannya ia melihat sesuatu yang melayang-layang dan... bundar?

Balon?

Siapa yang bawa balon di pesta dansa?

.

.


Thursday, 5 January 2017

Day 4: "His wife was having tea with the King and he didn't even know about it."




.

Honey, I’m home.”

Terdengar suara tawa dari arah dapur. Tersenyum, Jonathan berjalan ke arah suara tersebut sembari melepas jas dan dasinya. Hari ini hari yang cukup melelahkan di kantor, sehingga pulang dan mendengar tawa istrinya adalah highlight harinya.

Hello, darling, how’s work?”

Jonathan tidak menjawab, lebih memilih untuk merangkul istrinya dari belakang. Wanita berumur dua puluh empat tahun itu tidak kaget dan tetap melakukan pekerjaan mencuci piringnya. Merengut karena tidak diperhatikan, Jonathan menaruh kepalanya di pundak istrinya dan memeluknya lebih erat.

“Aneh rasanya, menjadi guru di almamater sendiri. Beberapa dosen yang sekarang menjadi rekan kerja dulu pernah mengajarku.”

Well, setidaknya kau sudah tahu tips dan trik untuk menjalani keseharianmu di kampus.”

“But still weird being a lecturer instead of a student. And hey, how’s your day?”

Bebersih, seperti biasa. Membeli beberapa baju bayi yang kemarin belum sempat kita beli. Warna netral, seperti keinginanmu.”

Nice.”

“And I’ve had tea with an old friend.”

Oh? Siapa? Aku kenal?”

Nope.”

Aneh... karena biasanya teman istrinya adalah temannya juga, mengingat mereka bersama sejak junior di SMA. Tapi bukan berarti istrinya tidak boleh memiliki temannya sendiri...

Okay, then.”

.

.

Wednesday, 4 January 2017

Day 3: The Language of Flowers, Pyjamas, a Secret Passageway.




 .

Semua ini dimulai pada hari Rabu.

Hari yang, menurut Marie, seharusnya tidak ada di kalender. Karena entah mengapa hari Rabu sangat membenci Marie.

Atau mungkin Marie yang membenci hari Rabu.

Semua ini dimulai pada hari Rabu ketika Marie, karena malamnya telat tidur untuk mengerjakan tugas-tugas Sosiologi, telat bangun padahal ia ada kelas pagi. Kemudian dilanjut dengan semua kamar mandi di asrama penuh sehingga ia telat mandi. Setelah dimarahi karena telat masuk kelas, Marie baru menyadari bahwa tugasnya tertinggal di asrama.

Dan sekarang, pada jam makan siang, ia kehabisan makanan favoritnya yaitu pai apel.

I really, really friggin hate Wednesday,” Marie menggerutu kepada sahabatnya, Jonathan.

“Hmm, biasa saja dong.”

“Kau sih enak bisa makan pai apelnya.”

“Nih, untukmu saja.”

Marie langsung mengambil piring yang disodori Jonathan, bergumam “Terima kasih,” dan segera menghabiskan pai tersebut.

“Ugh, you and your pie.”

“Pie is like the gift of God, Jonathan, shut up.”

“Ehm, apakah anda Marie Thompson?”

Marie mengangkat kepalanya menatap seorang laki-laki sekitar satu tahun di atasnya yang membawa seikat bunga. Aneh. “Ya, dan kau adalah...?” tanya Marie.

“Saya hanya pembawa pesan, ini untukmu.”

Laki-laki itu menjulurkan seikat bunga yang dipegangnya ke arah Marie. Gadis bermata hijau cemerlang itu memiringkan kepalanya, bingung, sebelum dengan perlahan mengambil bunga tersebut.

Seikat bunga mawar tanpa duri dan bunga carnation merah. Sayangnya, tidak ada kartu ucapan apapun di karangan bunga tersebut.

“Huh, menarik.”

.

.


Tuesday, 3 January 2017

Day 2: "Smoke hung so thick in the library's rafters that she could read words in it."




.

Darkness... she saw nothing.

Heat... she felt it to her bones.

Smoke... it filled her lungs.

She can’t go anywhere.

She thinks she’s dreaming again.

.

.

“-aku rasa masih ada seseorang di sana!”

“Nona, apakah tadi ada yang masuk lagi?”

Wanita paruh baya yang dikelilingi oleh selimut tebal dan menggunakan tabung oksigen mengangguk cepat. “Ya, tadi ada seorang gadis muda yang masuk, sekitar pukul empat sore. Namanya Thompson... Marie Thompson,” ujarnya.

“Apa tadi ia sudah keluar?”

“Saya rasa belum, pak. Tadi apinya menyala dengan cepat, asap dimana-mana. Saya langsung menyuruh dua orang di ruang depan untuk keluar, dan menyalakan alarm kebakaran secara manual. Saya tidak tahu mengapa alarm itu tidak langsung menyala secara otomatis, mengingat asapnya begitu banyak.”

“Jadi, tidak ada lagi yang berada di dalam perpustakaan selain nona Thompson?”

“Saya rasa tidak, pak.”

“Terima kasih, Nona.” Petugas pemadam kebakaran itu langsung berbalik dan berteriak kepada petugas lainnya, “Masih ada satu orang lagi di dalam sana!”

“Pak, sudah tidak mungkin untuk masuk lagi!”

“Kenapa-“

CRASH!

“Atapnya akan rubuh! Mundur semua mundur!”

.

.

Monday, 2 January 2017

Day 1: An Impulse Buy Leading to Intergalactic Warfare


.

“Sudah kubilang, hari ini aku akan keluar dari rumah dan melakukan sesuatu yang produktif.”

Terdengar suara tawa yang langsung disamarkan menjadi suara batuk di belakangnya, tetapi Marie tetap menatap tajam lawan bicaranya.

Jonathan menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, sudah mengetahui bahwa ia tidak bisa membantah perkataan wanita di depannya. Tapi tetap ia akan mencoba, walau hasilnya pasti tidak berhasil. “Marie-“

“Tidak.”

“-dengarkan dulu-“

“Tetap tidak.”

“-oke, kau boleh keluar rumah-“

“Tid- eh, boleh?!”

“-dengan satu syarat.”

Kedua mata hijau cemerlang milik Marie menari dengan antisipasi. “Apa?”

.

.

Sunday, 1 January 2017

30 Days Flash Fiction Challenge!

Hi guys!

Gue nemu ini di pinterest.com, yaitu Writing Challenge (taro aja di bagian search, banyak banget dan bervariasi kok hasilnya). Dalam rangka libur antar semester dan karena kegabutan yang tak henti, gue memutuskan untuk sedikit produktif dan ikut Writing Challenge ini. Daaaan, tema yang gue ambil adalah tentang flash fiction, karena beberapa hari yang lalu gue buka-buka akun lama gue di archiveofourown.org dan fanfiction.net, kemudian menyadari bahwa sudah beberapa tahun sejak gue update beberapa cerita fanfic, dan lebih lama lagi sejak gue nulis. Dari Writing Challenge ini, gue berharap otak ini lebih encer lagi dalam hal menulis dan gue mendapat muse tentang projek gue selanjutnya. Hehe.

So, this is the picture of my 30 Days Flash Fiction Writing Challenge: 


Jadi sepertinya gue akan mulai besok sehingga ini semua berakhir di tanggal 31 Januari 2017. Mungkin gue juga akan post ini di beberapa blog gue yang lain juga (kayak tumblr atau ig). Soooo, wish me luck! 

Love,
-a.m.r-